{"id":1679,"date":"2022-10-10T15:15:25","date_gmt":"2022-10-10T15:15:25","guid":{"rendered":"http:\/\/psikopend.sps.upi.edu\/?p=1679"},"modified":"2022-11-12T01:41:37","modified_gmt":"2022-11-12T01:41:37","slug":"teori-perkembangan-psikoanalisis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/teori-perkembangan-psikoanalisis\/","title":{"rendered":"[Kelas Pagi] Teori Perkembangan Psikoanalisis"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Oleh:<br \/>\nDewi Suniarsih (ganjil 2022)<br \/>\nIndah Al Aziz (ganjil 2022)<br \/>\n(Mata Kuliah Psikologi Perkembangan)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hai teman-teman, kalian pernah merhatiin setiap tahapan perkembangan kalian ga sih?<br \/>\nTahukah kamu bahwa perkembangan manusia itu ada banyak banget teori nya loh..<br \/>\nLet\u2019s go to the next slide &#8230;.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu teori perkembangan manusia digagas oleh <strong><em>Sigismund Schromo Freud<\/em><\/strong> atau yang lebih dikenal dengan sebutan <strong><em>Sigmund Freud<\/em><\/strong>. Freud dikenal dengan teori <strong><em>Psikoanalisis<\/em><\/strong>. Ia mendasarkan teori Psikoanalisis pada pengalaman <em>real<\/em>-nya ketika memberikan penanganan pada pasien-pasiennya dan kasus kesehatan mental (Ardiansyah, dkk. 2022: 25).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Teori perkembangan psikoanalisis merupakan kajian psikologi yang melihat alam bawah sadar. Alam bawah sadar itulah yang mempengaruhi perkembangan manusia dan terbentuk dari pengalaman-pengalaman masa kecil.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">So, setiap pengalaman akan besar pengaruhnya untuk perkembangan dan kepribadian. Penting sekali bagi kita untuk lebih bijak dalam proses dan pengaruh perkembangan si kecil maupun orang dewasa<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Struktur Kepribadian<br \/>\nStruktur kepribadian manusia terdiri dari tiga jenis (Leli Ika Maryati dan Vanda Rezania, 2021: 23):<br \/>\n1. Id, Merupakan aspek biologis dan bawaan dari lahir yang terdiri dari insting dan dilakukan secara reflek atau tidak sadar untuk mempertahankan sesuatu. Misalnya gengsi, tidak mau direndahkan, tidak mau kalah.<br \/>\n2. Ego, Merupakan aspek psikologis manusia yang dilakukan secara sadar dan dikenal sebagai tuntutan realitas. Misalnya marah, merajuk, memberontak.<br \/>\n3. Superego, Merupakan pengendali id sekaligus sebagai norma yangg menengahi dorongan id. Seperti menerima keadaan dan memahami kenyataan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada lima tahapan perkembangan menurut Freud (Leli Ika Maryati dan Vanda Rezania, 2021: 23):<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Oral stage <\/em>(0-18 bulan), zona kenikmatan berada di mulut. Konflik yang harus diselesaikan adalah \u201cmerasa aman\u201d hingga terbentuknya kelekatan dan trust kepada diri anak. Keberhasilan atau gagalnya fase ini akan mempengaruhi pada perasaan takut, cemburuan, dan kecemasan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Anal stage<\/em> (1-3th), zona kenikmatan berada di area dubur. Konflik yang harus diselesaikan adalah pelepasan dan kebersihan. Sangat cocok diajarkan <em>toilet training<\/em>. Keberhasilan atau gagalnya fase ini akan mempengaruhi pada sifat <em>holder<\/em> anak dan sisi kedermawanan atau pelitnya anak<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Phallic stage<\/em> (3-6th), zona kenikmatan berada pada wilayah genital. Dimanadisebutkanbahwamemanipulasidirimerupakanhal yang mengasyik<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Latency stage<\/em> (6th-<em>pube<\/em><em>rtas)<\/em>, Pada masa ini, perhatian penuhnya pada seksualitas, serta meningkatkan keahlian sosial dan intelektual. Kegiatan ini dapat dimanfaatkan oleh anak untuk menyalurkan energy pada aspek emosional yang nyaman dan meminimalisir konflik.<\/p>\n<p><em>Genital stage<\/em> (Pubertas-seterusnya). Freud mengemukakan bahwa konflik dengan orang tua dimasa kecil yang belum tuntas dapat timbul kembali pada masa remaja. Jika konfliknya sudah tuntas, maka individu mampu berperan secara mandiri layaknya orang dewasa.<\/p>\n<p>Kesimpulannya, setiap proses perkembangan fisik pasti akan disertai dengan perkembangan kognitif, psikologis, dan sosial-emosional. Dengan kata lain, kegagalan dan keberhasilan figur \u201corangtua\u201d dalam mendidik si kecil hingga dewasa, pasti akan mempengaruhi kepribadian dewasanya juga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sumber :<br \/>\nArdiansyah, A., Sarinah, S., Susilawati, S., &amp;Juanda, J. (2022). <em>KajianPsikoanalisis Sigmund Freud.<\/em>JurnalKependidikan<em>, 7<\/em>(1), 25-32.<br \/>\nMariyati, L.I., Vanda, R. (2021) <em>PikologiPerkembanganSepanjangKehidupanManusia. <\/em>Sidoarjo: UMSIDA Press.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Dewi Suniarsih (ganjil 2022) Indah Al Aziz (ganjil 2022) (Mata Kuliah Psikologi Perkembangan) Hai teman-teman, kalian pernah merhatiin setiap tahapan perkembangan kalian ga sih? Tahukah kamu bahwa perkembangan manusia itu ada banyak banget teori nya loh.. Let\u2019s go to the next slide &#8230;. Salah satu teori perkembangan manusia digagas oleh Sigismund Schromo Freud atau yang lebih dikenal dengan sebutan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1679","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1679","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1679"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1679\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1691,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1679\/revisions\/1691"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1679"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1679"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1679"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}