{"id":1807,"date":"2022-07-15T08:41:53","date_gmt":"2022-07-15T08:41:53","guid":{"rendered":"http:\/\/psikopend.sps.upi.edu\/?p=1807"},"modified":"2023-10-30T10:25:50","modified_gmt":"2023-10-30T10:25:50","slug":"program-pendidikan-guru-penggerak-digencarkan-terdapat-beragam-tantangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/program-pendidikan-guru-penggerak-digencarkan-terdapat-beragam-tantangan\/","title":{"rendered":"Program Pendidikan Guru Penggerak Digencarkan, Terdapat Beragam Tantangan"},"content":{"rendered":"<p><strong>PIKIRAN RAKYAT &#8211;&nbsp;<\/strong>Kementerian Pendidikan, Kebuda\u00adyaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) tengah menggencarkan Program Pendidikan Guru Pengg\u00aderak (PPGP).<\/p>\n<p>Terdapat beragam tantangan yang harus dihadapi guru yang mengikuti program ter\u00adsebut. Mulai dari menyesuaikan paradigma pembelajaran yang baru dengan yang sebelumnya telah tertanam lama, sampai persoalan zona nyaman.<\/p>\n<p>Sebagaimana diketahui, hingga Mei 2022, PPGP&nbsp;telah memasuki angkatan kelima. Sejauh ini, sekitar 5.500 guru telah dinyatakan lulus sebagai guru penggerak.&nbsp;Salah satunya, Aris Supriadi, guru SD Islam Terpadu Hidayah dari Ngawen, Klaten, yang mengikuti&nbsp;PPGP. Ia mengikuti pelatihan dalam pro\u00adgram tersebut selama sembilan bulan. Aris merupakan anggota PPGP&nbsp;angkatan ketiga.<\/p>\n<p>Aris menuturkan, selama pelatih\u00adan, ia kerap diajarkan metode peng\u00adajaran yang berorientasi kepada kebutuhan siswa.<\/p>\n<p>\u201dBeberapa materi yang diajarkan adalah metode pembelajaran terdiferensiasi dan sosial emosi,\u201d katanya, Rabu 13 Juli 2022.<\/p>\n<p>Metode pembelajaran terdiferensiasi, katanya, merupakan pem\u00adbelajar\u00adan yang sesuai dengan karakteristik anak, mulai dari siswa bertipe visual, yang lebih terbiasa menerima pelajaran dengan cara membaca atau me\u00adlihat; tipe audio, yang lebih besar menerima informasi mela\u00adlui pendengaran; tipe motorik, yang lebih bisa mencerna informasi dengan ber\u00adke\u00adgiatan di luar ruangan.<\/p>\n<p>Aris mengaku, masih perlu banyak penyesuaian dengan paradigma-pa\u00adra\u00addigma yang diajarkan dalam guru penggerak.<\/p>\n<p>Persoalannya kemudian, anggota PPGP&nbsp;diharuskan menjadi sumber informasi bagi guru-guru lain yang tidak ikut program tersebut.&nbsp;Aris menyebutkan, kendala lain ter\u00adkait hal ini adalah menyesuaikan waktu dengan kesibukan guru.<\/p>\n<p>Hal itu kerap kali membuat penyampaian informasi mengenai paradigma pembelajaran berorientasi kebutuhan siswa tersebut tidak tuntas.<\/p>\n<p>Iin Sulistianingsih, anggota&nbsp;PPGP&nbsp;dari TK Al Firdaus, Surakarta, memiliki pandangan lain tentang tantang\u00adan bagi guru untuk mengubah paradigma pengajarannya sesuai dengan Program Guru Penggerak. Tantangan itu terkait zona nyaman guru.<\/p>\n<p>Hal itu kerap kali membuat penyampaian informasi mengenai paradigma pembelajaran berorientasi kebutuhan siswa tersebut tidak tuntas.<\/p>\n<p>Iin Sulistianingsih, anggota PPGP&nbsp;dari TK Al Firdaus, Surakarta, memiliki pandangan lain tentang tantang\u00adan bagi guru untuk mengubah paradigma pengajarannya sesuai dengan Program Guru Penggerak. Tantangan itu terkait zona nyaman guru.<\/p>\n<p><strong>Penulis&nbsp;<\/strong><\/p>\n<p>Muhammad Ashari<\/p>\n<p><strong>Sumber<\/strong><\/p>\n<p>https:\/\/www.pikiran-rakyat.com\/pendidikan\/pr-015015975\/program-pendidikan-guru-penggerak-digencarkan-terdapat-beragam-tantangan?page=2<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PIKIRAN RAKYAT &#8211;&nbsp;Kementerian Pendidikan, Kebuda\u00adyaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) tengah menggencarkan Program Pendidikan Guru Pengg\u00aderak (PPGP). Terdapat beragam tantangan yang harus dihadapi guru yang mengikuti program ter\u00adsebut. Mulai dari menyesuaikan paradigma pembelajaran yang baru dengan yang sebelumnya telah tertanam lama, sampai persoalan zona nyaman. Sebagaimana diketahui, hingga Mei 2022, PPGP&nbsp;telah memasuki angkatan kelima. Sejauh ini, sekitar 5.500 guru telah dinyatakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[57],"tags":[],"class_list":["post-1807","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1807","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1807"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1807\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4068,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1807\/revisions\/4068"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1807"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1807"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1807"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}