{"id":1810,"date":"2022-07-07T08:45:57","date_gmt":"2022-07-07T08:45:57","guid":{"rendered":"http:\/\/psikopend.sps.upi.edu\/?p=1810"},"modified":"2022-12-05T08:50:00","modified_gmt":"2022-12-05T08:50:00","slug":"learning-loss-selama-pandemi-perlu-ada-penguatan-guru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/learning-loss-selama-pandemi-perlu-ada-penguatan-guru\/","title":{"rendered":"Learning Loss Selama Pandemi, Perlu Ada Penguatan Guru"},"content":{"rendered":"<p>Penguatan guru dalam hal inovasi pembelajaran penting di tengah ancaman learning loss selama pandemi COVID-19. Inovasi pembelajaran itu perlu diarahkan untuk memahami kebutuhan pembelajaran siswa.<\/p>\n<p>Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbudristek Iwan Syahril mengatakan, fokus pendidikan\u00a0adalah murid. Dengan demikian, guru perlu melakukan inovasi dan menambah pengalaman pengajarannya.<\/p>\n<p>Hal tersebut dikatakannya penting untuk menyesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi siswa. Terlebih dengan adanya ancaman learning loss selama pandemi. &#8220;Ini artinya, guru harus bisa memahami karakteristik masing-masing anak didiknya,&#8221; kata dia dalam keterangan persnya di acara Tanoto Facilitators Gathering (TFG) 2022, Rabu, 6 Juli 2022.<\/p>\n<p>Menurutnya, setiap anak memiliki karakteristik yang unik. Kesadaran akan keunikan siswa itulah yang perlu menjadi pemicu bagi guru untuk terus mengasah talentanya. \u201cKarena setiap anak itu unik, maka guru harus terus belajar, mencari ide untuk memecahkan masalah-masalah yang ditemukan,\u201d ujar peraih gelar Ph.D bidang Pendidikan dari Michigan State University, Amerika Serikat tersebut.<\/p>\n<p>Untuk menopang penguatan guru, katanya, Kemendikbudristek juga telah mengeluarkan Program Organisasi Penggerak. Tujuan dari Program Organisasi Penggerak ialah meningkatkan kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan dengan melibatkan peran serta Ormas bidang pendidikan\u00a0yang dibuktikan dengan peningkatan hasil belajar peserta didik.<\/p>\n<p>Dewan Pembina Tanoto Foundation, Belinda Tanoto mengatakan, pihaknya telah dipercaya menjadi mitra Kemendikbudristek untuk turut mendukung Program Organisasi Penggerak melalui jalur pendanaan mandiri. Kemitraan itu terwujud dalam Program Pintar Penggerak.<\/p>\n<p>Ia mengatakan, peningkatan kualitas tenaga pendidik atau guru merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk memajukan kualitas pendidikan\u00a0di Indonesia. \u201cKarena itu, sejak tahun 2018, Tanoto Foundation\u00a0mendukung program pemerintah dalam peningkatan kualitas pendidikan\u00a0melalui Program Pintar atau Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Melalui Pintar Penggerak, ia menambahkan, pihaknya telah melatih dan mendampingi kepala sekolah, guru, dan komite sekolah pada jenjang SD\/MI, SMP\/MTs, dan dosen LPTK di 25 kabupaten\/kota. Provinsinya meliputi Kalimantan Timur, Riau, Jambi, Sumatera Utara, dan Jawa Tengah.<\/p>\n<p>Ia mengklaim, program ini telah memberi manfaat bagi lebih dari 200 ribu siswa.<\/p>\n<p>&#8220;Kami telah memodelkan praktik baik untuk meningkatkan kompetensi siswa dalam literasi, numerasi dan sains di 263 SD dan SMP,&#8221; tuturnya.<\/p>\n<p>Kunci utama transformasi sistem pendidikan\u00a0di Indonesia adalah kemauan pendidik untuk terus belajar dan mengembangkan diri.<\/p>\n<p><strong>Sumber :<\/strong><\/p>\n<p>https:\/\/www.pikiran-rakyat.com\/pendidikan\/pr-014937203\/learning-loss-selama-pandemi-perlu-ada-penguatan-guru<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penguatan guru dalam hal inovasi pembelajaran penting di tengah ancaman learning loss selama pandemi COVID-19. Inovasi pembelajaran itu perlu diarahkan untuk memahami kebutuhan pembelajaran siswa. Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbudristek Iwan Syahril mengatakan, fokus pendidikan\u00a0adalah murid. Dengan demikian, guru perlu melakukan inovasi dan menambah pengalaman pengajarannya. Hal tersebut dikatakannya penting untuk menyesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi siswa. Terlebih dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1810","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1810","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1810"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1810\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1812,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1810\/revisions\/1812"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1810"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1810"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1810"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}