{"id":2505,"date":"2022-08-19T09:00:00","date_gmt":"2022-08-19T09:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/?p=2505"},"modified":"2023-10-27T09:45:35","modified_gmt":"2023-10-27T09:45:35","slug":"gender-dalam-pendidikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/gender-dalam-pendidikan\/","title":{"rendered":"Gender Dalam Pendidikan"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-vivid-red-color has-text-color\">Khoirunnisa &amp; Kholifatul Amer Jannah<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Apa sih gender itu?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Jary dan Jary (1991) menjelaskan gender ke dalam dua pengertian. Pertama, kata gender biasa digunakan untuk membedakan antara laki-laki dan perempuan berdasarkan anatomi jenis kelamin. Pada pengertian kedua, Gender lebih diartikan ke dalam pembagian &#8220;masculine&#8221; dan &#8220;feminine&#8221; melalui atribut-atribut yang melekat secara sosial dan psikologi sosial, atribut tersebut termasuk peran, penampilan, perilaku, dan sifat.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Bias Gender Dalam Pendidikan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pengertian bias dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah: simpangan atau belokan arah. Oleh karena itu, bias gender dalam pendidikan dapat diartikan sebagai ketimpangan gender yang mengunggulkan satu jenis kelamin tertentu dalam realitas pendidikan (Asrohah, 2008).<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Konsep Psikologi yang Mempengaruhi Bias Gender di Bidang Pendidikan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><em>Self-Fulfilling Prophecy<\/em><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p>Self-fulfilling prophecy merupakan proses dimana suatu ekspektasi guru\/konselor akan membuat peserta disik berperilaku sesuai dengan ekspektasinya (Kassin, 2011).<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" start=\"2\">\n<li><em>Stereotype Threat<\/em><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p>Terdapat ancaman dari stereotip gender dikalangan masyarakat. Stereotip gender tersebut merupakan keyakinan masyarakat mengenai konsepsi dari laki-laki dan perempuan (Mahendra, 2017).<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Referensi:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Jary, D., &amp; Jary, J. (1991). Dictionary of Sociology. Illinois: Dos Jones Irwin.<\/li>\n\n\n\n<li>Asrohah, H. (2008). Sosiologi Pendidikan. Surabaya: Kopertais Press.<\/li>\n\n\n\n<li>Kassin, &amp; dkk. (2011). Social Psychology: Eight Edition. Belmont: Wadsworth Cengange Learning.<\/li>\n\n\n\n<li>Mahendra, I. (2017). Stereotip Gender dan Penyebaran Wacana Maskulinitas dalam Novel Balada Si Roy: Joe Karya Gola Gong. Jurnal Alayasastra,13 (2). 105-118.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Khoirunnisa &amp; Kholifatul Amer Jannah Apa sih gender itu? Jary dan Jary (1991) menjelaskan gender ke dalam dua pengertian. Pertama, kata gender biasa digunakan untuk membedakan antara laki-laki dan perempuan berdasarkan anatomi jenis kelamin. Pada pengertian kedua, Gender lebih diartikan ke dalam pembagian &#8220;masculine&#8221; dan &#8220;feminine&#8221; melalui atribut-atribut yang melekat secara sosial dan psikologi sosial, atribut tersebut termasuk peran, penampilan, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2508,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[58],"tags":[],"class_list":["post-2505","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-what-i-learned"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2505","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2505"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2505\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2509,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2505\/revisions\/2509"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2508"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2505"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2505"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2505"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}