{"id":2797,"date":"2022-11-15T09:00:00","date_gmt":"2022-11-15T09:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/?p=2797"},"modified":"2023-10-27T13:02:16","modified_gmt":"2023-10-27T13:02:16","slug":"perkembangan-kognitif-remaja-psikologi-perkembangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/perkembangan-kognitif-remaja-psikologi-perkembangan\/","title":{"rendered":"Perkembangan Kognitif Remaja (Psikologi Perkembangan)"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-vivid-red-color has-text-color\">Rifka Silmia Salsabila &amp; Pupe Putriza <\/p>\n\n\n\n<p>Dalam buku Life Span Development karya Santrock (2019), perkembangan kognitif remaja meliputi:<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tahap Operasional Formal<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Piaget mengatakan bahwa remaja memasuki tingkat perkembangan kognitif tertinggi, ketika mereka mengembangkan kapasitas pemikiran abstrak. Pemikiran mereka tidak lagi terbatas pada hal-hal konkret yang bersifat aktual (saat ini) atau konkret.<\/p>\n\n\n\n<p>Adapun karakteristik remaja menurut Piaget sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Mampu membuat hipotesis.<\/li>\n\n\n\n<li>Mampu memecahkan masalah secara verbal.<\/li>\n\n\n\n<li>Meningkatkan tendensi untuk berpikir mengenai pikiran itu sendiri.&nbsp;<\/li>\n\n\n\n<li>Pemikirannya banyak mengandung idealisme.<\/li>\n\n\n\n<li>Berpikir logis.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p><strong>Egosentrisme Remaja<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Egosentrisme remaja adalah peningkatan kesadaran diri remaja. David Elkind dalam Santrock (2019) mengatakan, ada dua komponen sebagai ciri-ciri egosentrisme remaja:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Audiens imajiner: Keyakinan remaja bahwa orang lain berminat pada dirinya, termasuk juga tingkah laku mencari perhatian, selalu merasa sedang berada di atas panggung.<\/li>\n\n\n\n<li>Personal fabel: Penghayatan seorang remaja bahwa dirinya unik dan tidak terkalahkan.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p><strong>Pemrosesan Informasi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Kuhn dalam Santrock (2019), remaja mengalami peningkatan di dalam fungsi eksekutif, yang melibatkan aktivitas kognitif dalam tingkat yang lebih tinggi. Seperti penalaran, pengambilan keputusan, dan berpikir kritis.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada otak, tempat untuk melakukan fungsi eksekutif disebut dengan Prefrontal Cortex.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Cakupan Fungsi Eksekutif Masa Remaja Berfokus pada:\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><em>Pengambilan Keputusan<\/em>: Masa remaja adalah masa di mana seseorang dihadapkan pada situasi yang banyak melibatkan pengambilan keputusan.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Berpikir Kritis<\/em>: Meningkatnya kecepatan dan kapasitas dalam memproses informasi, pengetahuan yang lebih luas, kemampuan mengonstruksikan kombinasi baru dari pengetahuan, penggunaan strategi secara luas dan spontan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Referensi:<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Santrock, John. W, (2019). Life Span Development Seventeeth Edition. McGraw-Hill Education.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rifka Silmia Salsabila &amp; Pupe Putriza Dalam buku Life Span Development karya Santrock (2019), perkembangan kognitif remaja meliputi: Tahap Operasional Formal Piaget mengatakan bahwa remaja memasuki tingkat perkembangan kognitif tertinggi, ketika mereka mengembangkan kapasitas pemikiran abstrak. Pemikiran mereka tidak lagi terbatas pada hal-hal konkret yang bersifat aktual (saat ini) atau konkret. Adapun karakteristik remaja menurut Piaget sebagai berikut: Egosentrisme Remaja [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2808,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[58],"tags":[],"class_list":["post-2797","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-what-i-learned"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2797","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2797"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2797\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2812,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2797\/revisions\/2812"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2808"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2797"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2797"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2797"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}