{"id":4958,"date":"2024-03-13T00:32:00","date_gmt":"2024-03-13T00:32:00","guid":{"rendered":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/?p=4958"},"modified":"2024-04-17T00:40:13","modified_gmt":"2024-04-17T00:40:13","slug":"quarter-life-crisis-pada-masa-dewasa-awal-essai-eksposisi-analitis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/quarter-life-crisis-pada-masa-dewasa-awal-essai-eksposisi-analitis\/","title":{"rendered":"QUARTER LIFE CRISIS Pada Masa Dewasa Awal (Essai Eksposisi Analitis)"},"content":{"rendered":"\n<p><strong><em>QUARTER LIFE CRISIS<\/em><\/strong><strong> Pada Masa Dewasa Awal<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Essai Eksposisi Analitis<\/strong> <\/p>\n\n\n\n<p><strong>IQRAINI AZZAHRA RAMADHANTI<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>2308162<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Masa dewasa awal merupakan masa transisi dari masa remaja. Masa remaja ditandai dengan pencarian jati diri, pada awal masa dewasa identitas diri ini diperoleh sedikit demi sedikit sesuai dengan usia kronologis dan usia mental. Berbagai masalah juga muncul seiring bertambahnya usia di awal masa dewasa. Pada saat ini, individu mulai mengembangkan identitas diri yang lebih matang, baik secara fisik, emosional, maupun sosial. Secara fisik, masa dewasa awal merupakan masa puncak perkembangan fisik. Individu mencapai kematangan seksual dan memiliki kekuatan fisik yang sangat baik. Secara emosional, awal masa dewasa adalah masa yang penuh dengan perubahan dan tantangan. Individu mulai merasakan emosi yang kompleks, seperti cinta, kasih sayang, kekhawatiran, dan stres. Secara sosial, masa dewasa awal merupakan masa di mana individu mulai menjalin hubungan yang lebih intim dengan orang lain, baik dengan teman sebaya, pasangan, atau keluarga. Individu juga mulai mengambil peran baru dalam masyarakat, seperti pekerja, warga negara, dan orang tua.<\/p>\n\n\n\n<p>Hurlock (1990), mengatakan bahwa dewasa awal dimulai pada umur 18 tahun sampai kira-kira umur 40 tahun, saat perubahan-perubahan fisik dan psikologis yang menyertai berkurangnya kemampuan reproduktif. Secara umum, mereka yang tergolong dewasa muda (<em>Young Adult) <\/em>ialah mereka yang berusia 20-40 tahun. Menurut seorang ahli psikologi perkembangan, Santrock&nbsp;(2010), orang dewasa muda termasuk masa transisi, baik transisi secara fisik <em>(physically trantition) <\/em>transisi secara intelektual <em>(cognitive transition), <\/em>serta transisi peran sosial <em>(social role transition).<\/em> Perkembangan sosial masa dewasa awal adalah puncak dari perkembangan sosial masa dewasa. Masa dewasa awal adalah masa beralihnya pandangan egosentris menjadi sikap yang empati. Pada masa ini, penentuan relasi sangat memegang peranan penting.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Havighurst dalam (Monks, Knoers, &amp; Haditono, 2001), tugas perkembangan dewasa awal adalah menikah atau membangun suatu keluarga, mengelola rumah tangga, mendidik atau mengasuh anak, memikul tanggung jawab sebagai warga negara, membuat hubungan dengan suatu kelompok sosial tertentu, dan melakukan suatu pekerjaan. Dewasa awal merupakan masa permulaan dimana seseorang mulai menjalin hubungan secara intim dengan lawan jenisnya. Hurlock&nbsp;(1990), &nbsp;dalam hal ini telah mengemukakan beberapa karakteristik dewasa awal dan pada salah satu intinya dikatakan bahwa dewasa awal merupakan suatu masa penyesuaian diri dengan cara hidup baru dan memanfaatkan kebebasan yang diperolehnya. Dari segi fisik, masa dewasa awal adalah masa dari puncak perkembangan fisik. Perkembangan fisik sesudah masa ini akan mengalami degradasi sedikit-demi sedikit, mengikuti umur seseorang menjadi lebih tua. Segi emosional, pada masa dewasa awal adalah masa dimana motivasi untuk meraih sesuatu sangat besar yang didukung oleh kekuatan fisik yang prima. Sehingga, ada stereotipe yang mengatakan bahwa masa remaja dan masa dewasa awal adalah masa dimana lebih mengutamakan kekuatan fisik daripada kekuatan rasio dalam menyelesaikan suatu masalah.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam buku Santrock&nbsp;(2010), Masa dewasa awal merupakan masa transisi dari masa remaja ke masa dewasa yang ditandai dengan berbagai perubahan, baik secara fisik, kognitif, maupun sosial. Salah satu perubahan yang penting terjadi pada masa ini adalah perkembangan moral sosial. Perkembangan moral sosial adalah proses perubahan dalam pemahaman dan penerapan nilai-nilai moral serta norma-norma sosial. Pada masa dewasa awal, individu semakin mengembangkan kemampuan untuk berpikir secara abstrak dan kompleks. Hal ini memungkinkan individu pada masa dewasa awal untuk dapat memahami konsep-konsep moral yang lebih abstrak, seperti keadilan, universalisme, dan hak asasi manusia. Selain itu, pada masa ini individu juga semakin terlibat dalam berbagai peran sosial, seperti pekerjaan, pernikahan, dan orang tua. Hal ini mendorong mereka untuk mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang norma-norma sosial yang berlaku di berbagai konteks. Perkembangan moral sosial pada masa dewasa awal dipengaruhi oleh berbagai faktor internal, yaitu 1) Kemampuan kognitif: Kemampuan kognitif yang berkembang memungkinkan individu untuk memahami konsep-konsep moral yang lebih abstrak. 2) Pengalaman pribadi: Pengalaman pribadi, seperti interaksi dengan orang lain, peristiwa kehidupan, dan pendidikan, dapat membentuk pemahaman individu tentang moralitas. 3) Karakter dan kepribadian: Karakter dan kepribadian individu juga dapat mempengaruhi perkembangan moral sosial mereka. Perkembangan moral sosial pada masa dewasa awal juga dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, yaitu: 1) Lingkungan keluarga: Keluarga merupakan lingkungan sosial yang pertama dan paling penting bagi individu. Nilai-nilai moral dan norma-norma sosial yang diajarkan oleh keluarga akan berpengaruh terhadap perkembangan moral sosial individu. 2) Lingkungan sosial: Lingkungan sosial, seperti kelompok pertemanan, tempat kerja, dan komunitas, juga dapat berperan dalam membentuk pemahaman individu tentang moralitas. 3) Budaya: Budaya juga dapat mempengaruhi perkembangan moral sosial individu. Norma-norma moral yang berlaku dalam suatu budaya akan menjadi acuan bagi individu dalam berperilaku. Pada masa dewasa awal, individu akan menghadapi berbagai tugas perkembangan moral sosial, diantaranya seperti a) Mengembangkan nilai-nilai moral yang stabil, b) Mengembangkan kemampuan untuk berpikir secara kritis tentang moralitas, c) Mengembangkan kemampuan untuk memecahkan masalah moral. Perkembangan moral sosial pada masa dewasa awal merupakan proses yang penting yang dapat berpengaruh terhadap kualitas hidup individu dan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika penulis melakukan <em>Field Study, <\/em>penulis melakukan wawancara kepada 2 orang responden dengan usia masing-masing adalah 23 dan 25 tahun. Dalam wawancara tersebut, penulis mendapatkan temuan yang menarik dari masing-masing responden, yang mana dalam hal ini, responden pertama menjelaskan secara <em>detail <\/em>tentang perkembangan fisik, kognitif, serta moral-sosialnya. Secara umum, Quarter life crisis mengacu pada gejala krisis yang dialami individu sekitar usia 20-an hingga awal 30-an. Masa dewasa awal adalah tahap dimana individu harus menyelesaikan konflik identitas versus kebingungan peran. <em>Quarter-life crisis <\/em>muncul ketika pertanyaan mengenai siapa diri mereka dan apa yang mereka inginkan mulai mendominasi pemikiran mereka (Erikson, 1950). &nbsp;Psikolog Jeffrey Arnett menjelaskan, &#8220;Ini adalah periode ketika seseorang mulai meragukan pilihan hidupnya, merasa bingung tentang identitas diri, dan menghadapi tekanan untuk membuat keputusan besar dalam hidup&#8221;&nbsp;(Arnett, 2004). Krisis ini dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk karier, hubungan, dan tujuan hidup. Menurut Balzarie dan Nawangsih (2019) dalam Putri (2018), krisis yang dialami individu early adult &#8211; hood ini begitu memberatkan karena perubahan yang terjadi pada berbagai aspek kehidupan early adult lebih banyak daripada transisi pada usia lainnya. Pada awal masa dewasa, terdapat beberapa peran baru yang sangat berbeda dengan peran pada tahap perkembangan sebelumnya, yaitu remaja akhir. Peran baru individu dewasa awal ini digariskan dalam tugas-tugas perkembangan, yang meliputi: menentukan pasangan hidup; belajar menjadi istri \/ suami; membangun rumah tangga; menyamakan pemahaman dengan keluarga; pengelolaan rumah tangga; bekerja; menjadi warga negara seutuhnya; menjadi bagian dari kelompok sosial yang memiliki pemahaman dan nilai yang sama (Afandi, 2023). Robinson dan Wright&nbsp;(2013), menyebutkan beberapa masalah yang dihadapi individu selama quarter life crisis adalah putus cinta, terjebak dalam hubungan yang tidak diinginkan, kesulitan keuangan, konflik keluarga, terjebak dalam tekanan kerja, dan penyakit fisik. Namun, ciri paling umum dari krisis yang dialami perempuan adalah fokusnya pada hubungan, sedangkan laki-laki lebih berorientasi pada pekerjaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Herawati &amp; Hidayat&nbsp; (2020) dalam (Putri, 2022), Fenomena krisis awal kedewasaan seringkali muncul dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan masyarakat, seperti kapan harus menikah, kapan lulus, kapan harus bekerja, dan lain-lain yang sepertinya tidak ada habisnya. Individu harus siap menghadapi tantangan sosial sebagai orang dewasa. Seseorang yang mengalami krisis seperempat kehidupan memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap kehidupan dan kariernya, yang dapat menimbulkan perasaan kecewa ketika kehidupan dewasanya tidak sesuai dengan yang diharapkan saat remaja. Krisis ini terjadi ketika orang mulai bertanggung jawab atas keinginannya sendiri, menyadari makna hidup dengan memahami nilai-nilai yang telah dipilihnya, dan berusaha untuk mempertahankan nilai-nilai tersebut (Iswati, 2019; Stapleton, 2012) dalam (Putri, 2022).<\/p>\n\n\n\n<p>Individu yang melalui tahapan perkembangan tidak mampu merespon dengan baik berbagai masalah yang dihadapi, diprediksi akan mengalami berbagai masalah psikologis, merasa terpaut dalam ketidakpastian dan mengalami krisis emosional atau yang biasa disebut dengan quarter life crisis&nbsp;(Robbins &amp; Wilner, 2001) Menurut Fischer (2008) quarter-life crisis adalah perasaan khawatir yang muncul atas ketidakpastian kehidupan masa depan seputar hubungan, karier, dan kehidupan sosial yang terjadi sekitar usia 20 tahun. Nash dan Murray (2010) mengatakan bahwa permasalahan yang dihadapi saat mengalami quarter life crisis berkaitan dengan mimpi dan harapan, tantangan minat akademik, agama dan kerohanian, serta kehidupan kerja dan karir&nbsp;(Habibie, 2019).<\/p>\n\n\n\n<p>Seperti yang sudah didapatkan dari hasil field study, responden masih dalam tahap eksplorasi yang mana dalam hal ini, responden mengalami masa krisis ketika ingin mencapai karirnya, kesulitan datang dari keluarga yang kurang mendukung pilihan karir yang sudah dipilih oleh responden. Hal ini berkaitan dengan teori yang dikatakan oleh seorang ahli psikologi karier, Donald Super (1957) yang mencatat \u201cKetidaksesuaian antara harapan dan realitas karier dapat menciptakan perasaan kekecewaan dan kebingungan, memicu pertanyaan mendalam tentang arah hidup. Ada kesenjangan antara ekspektasi dan realita yang seringkali menjadi pemicu <em>quarter-life crisis. <\/em>Individu mungkin merasa tidak puas dengan karier mereka atau merasa tidak siap menghadap tanggung jawab yang akan datang. <em>Quarter-life crisis <\/em>sering dikaitkan dengan pencarian makna dalam pekerjaan. Viktor Frankl (1946), berpendapat \u201cseseorang mencari tujuan dan makna dalam pekerjaan mereka; tanpa itu, mereka dapat merasa terjebak dalam kekosongan yang dapat memicu krisis identitas\u201d. hal ini juga dapat dikaitkan dengan teori yang dipengaruhi oleh pertimbangan sosial dan ekonomi terkait karier. Ginzberg&nbsp;(1951), mengemukakan bahwa factor-faktor ekonomi dalam tuntutan sosial dapat menciptakan tekanan yang signifikan dalam pengambilan keputusan karir. Ketidakpastian ekonomi dan ekspektasi spsial dapat menambah kompleksitas dalam menghadapi krisis.<\/p>\n\n\n\n<p>Penelitian ini menemukan bahwa <em>Quarter-life crisis <\/em>adalah bagian dari proses transisi yang terjadi dari periode transisi remaja ke masa dewasa awal yang dirasakan oleh individu yang mana tentunya disebabkan oleh berbagai macam aspek kehidupan yaitu termasuk pemilihan karir, hubungan dengan keluarga, asmara, maupun dengan lingkungan, serta tujuan hidup. &nbsp;Dengan eksplorasi yang akan terus dilanjutkan oleh individu dan dengan bantuan lingkungan yang baik, <em>quarter-life crisis <\/em>akan mudah untuk dihadapi dengan baik.<\/p>\n\n\n\n<h1 class=\"wp-block-heading\">Referensi<\/h1>\n\n\n\n<p>Hurlock, E. B. (1990). <em>Psikologi Perkembangan; Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (Edisi 5).<\/em> Jakarta: Erlangga.<\/p>\n\n\n\n<p>Santrock, J. W. (2010). <em>Life-span Development (13th ed.).<\/em> Boston: MA: McGraw-Hill.<\/p>\n\n\n\n<p>Monks, F. J., Knoers, A. P., &amp; Haditono, S. R. (2001). <em>Psikologi Perkembangan; Pengantar dalam Berbagai Bagiannya.<\/em> Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.<\/p>\n\n\n\n<p>Arnett, J. J. (2004). <em>Emerging Adulthood: The Winding Road From the Late Teens Through the Twenties.<\/em> New York: Oxford University Press.<\/p>\n\n\n\n<p>Afandi, M. (2023). Measuring the Difficulties of Early Adulthood: The Development of the Quarter Life Crisis Scale. <em>Jurnal Kajian Bimbingan dan Konseling<\/em>, 167-176.<\/p>\n\n\n\n<p>Habibie, A. (2019). Peran Religiusitas Terhadap Quarter-Life Crisis (QLC) pada Mahasiswa. <em>GADJAH MADA JOURNAL OF PSYCHOLOGY<\/em>, 129-138.<\/p>\n\n\n\n<p>Robinson, O. C., &amp; Wright, G. T. (2013). Adult Life stage and crisis as predictors of curiosity and authenticity. <em>International Journal of Behavioral Developments 41(3)<\/em>, 426-431.<\/p>\n\n\n\n<p>Putri, A. K. (2022). A Quarter-Life Crisis in Early Adulthood in Indonesia during the Covid-19. <em>Indigenous: Jurnal Ilmiah Psikologi, 7(1)<\/em>, 28-47.<\/p>\n\n\n\n<p>Robbins, A., &amp; Wilner, A. (2001). <em>Quarter Life Crisis: The Unique challenges of life in your twenties.<\/em> New York: Penguin Putnam, Inc.<\/p>\n\n\n\n<p>Atwood, J. D., &amp; Scholtz, C. (2008). The quarter-life time period: An age of indulgence, crisis or both? <em>Contemporary Family Therapy 30(4)<\/em>, 233-250.<\/p>\n\n\n\n<p>Ardelt, M., &amp; Edwards, C. A. (2015). Wisdom at the end of life: An analysis of mediating and moderating relations between wisdom and subjective well-being. <em>Journals of Gerontology: Social Science<\/em>, 1-12.<\/p>\n\n\n\n<p>Super, D. E. (1957). <em>The Psychology of careers.<\/em> New York: Harper &amp; Row.<\/p>\n\n\n\n<p>Frankl, V. E. (1946). <em>Man&#8217;s search for meaning.<\/em> Boston: Beacon Press.<\/p>\n\n\n\n<p>Ginzberg, E., Ginsburg, S. W., Axelard, S., &amp; Herma, J. L. (1951). <em>Occupational choice: An approach to a general theory .<\/em> New York: Columbia University Press.<\/p>\n\n\n\n<p>Erikson, E. H. (1950). <em>Childhood and society.<\/em> New York: W.W. Norton &amp; Company.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>QUARTER LIFE CRISIS Pada Masa Dewasa Awal Essai Eksposisi Analitis IQRAINI AZZAHRA RAMADHANTI 2308162 Masa dewasa awal merupakan masa transisi dari masa remaja. Masa remaja ditandai dengan pencarian jati diri, pada awal masa dewasa identitas diri ini diperoleh sedikit demi sedikit sesuai dengan usia kronologis dan usia mental. Berbagai masalah juga muncul seiring bertambahnya usia di awal masa dewasa. Pada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[91,13,1,65,64,70,71],"tags":[],"class_list":["post-4958","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-91","category-aktivitas-akademik","category-artikel","category-informasi-agenda-2","category-informasi-agenda","category-akademik-panduan-penyelenggaraan-pendidikan","category-akademik-panduan-penyelenggaraan-pendidikan-2"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4958","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4958"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4958\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4960,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4958\/revisions\/4960"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4958"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4958"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4958"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}