{"id":960,"date":"2021-05-03T16:28:57","date_gmt":"2021-05-03T16:28:57","guid":{"rendered":"http:\/\/psikopend.sps.upi.edu\/?p=960"},"modified":"2021-05-03T16:51:12","modified_gmt":"2021-05-03T16:51:12","slug":"skill-wajib-guru-di-era-milenial","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/skill-wajib-guru-di-era-milenial\/","title":{"rendered":"Skill Wajib Guru di Era Milenial"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"http:\/\/psikopend.sps.upi.edu\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/1.-skill-wajib-guru-milenial.jpg\" rel=\"attachment wp-att-961\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-961\" src=\"http:\/\/psikopend.sps.upi.edu\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/1.-skill-wajib-guru-milenial-300x300.jpg\" alt=\"1. skill wajib guru milenial\" width=\"314\" height=\"314\" srcset=\"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/1.-skill-wajib-guru-milenial-300x300.jpg 300w, https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/1.-skill-wajib-guru-milenial-150x150.jpg 150w, https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/1.-skill-wajib-guru-milenial.jpg 720w\" sizes=\"auto, (max-width: 314px) 100vw, 314px\" \/><\/a><\/p>\n<p>Di era revolusi industri 4.0 seperti saat ini dimana pemanfaatan Internet of things (IoT) begitu pesat mewarnai dunia pendidikan. Kecanggihan teknologi dan informasi yang serba cepat ini tentu berdampak pada karakter dan skill peserta didik dan guru generasi millenial. Transformasi pendidikan sebagai upaya merespon perkembanngan zaman harus memiliki daya adaptasi tinggi salah satunya dari peran guru. Oleh karena itu dari tim media Program Psikologi Pendidikan Pascasarjana mengadakan acara diskusi livestreaming di media Instagram tentang skill wajib guru millenial bersama Tuti Azizah, S.Pd.,Gr. yang bersedia berbagi pengalamannya sebagai guru milenial di tingkatan SMK pada Sabtu (10\/4) pukul 19.45 sampai 20.45. Melalui acara livestreaming ini di ungkapkan bahwa guru milenial itu harus mengikuti perkembangan yang sangat cepat, baik dari skill motorik, intelektual, dan manajemen kelas.<\/p>\n<p>Dalam acara ini juga, Tuti Azizah menuturkan bahwa guru milenial itu harus kreatif dalam mendidik para siswa dan lebih cepat mengadaptasikan diri, dari mulai bahasa dan peristilah baik keilmuan maupun kekinian pada lingkup pergaulan siswa, kemampuan para siswa, kepiawaian dalam teknologi, dll. Apalagi disaat kondisi pandemik covid-19 seperti sekarang, seorang guru harus benar-benar kreatif dan pintar memanage siswanya pada saat pembelajaran daring supaya kebermaknaan belajar tetap ada. Kreatifitas metode pembelajaran yang digunakan guru ini seperti pembuatan media ajar yang menarik, misal saat pertemuan virtual via Zoom atau Gmeet guru tidak hanya ceramah atau menampilkan slide power point tetapi dapat diselingi dengan kuis interaktif dan games berbasis web yang sudah banyak berkembang, sehingga ketika pembelajaran daring berlangsung para siswa tidak bosan dan tetap terjalin <em>engagement<\/em> dengan gurunya.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/psikopend.sps.upi.edu\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/2.-skill-wajib-guru-milineal.jpg\" rel=\"attachment wp-att-962\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-962\" src=\"http:\/\/psikopend.sps.upi.edu\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/2.-skill-wajib-guru-milineal-203x300.jpg\" alt=\"2. skill wajib guru milineal\" width=\"203\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/2.-skill-wajib-guru-milineal-203x300.jpg 203w, https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/2.-skill-wajib-guru-milineal.jpg 590w\" sizes=\"auto, (max-width: 203px) 100vw, 203px\" \/><\/a><\/p>\n<p>Selanjutnya, menurut Tuti Azizah meskipun guru milenial itu identik dengan anak muda, melek teknologi dan mampu mengikuti arus zaman yang serba cepat namun, ia harus tetap menjaga profesionalisme sebagai guru dan memiliki etika yang baik dalam bersosialisasi dengan partner guru khususnya guru \u2013 guru senior yang secara usia berbeda generasi. Kenapa? Hal ini diungkapkan Tuti bahwa dengan menjaga etika dan hubungan yang baik. Baik dalam kebutuhan pada ranah profesionalitas sebagai guru maupun dalam kebutuhan yang sifatnya lebih personal. Hal ini penting agar terjalinnya kolaborasi yang baik dari tenaga pendidik untuk ketercapaian keberhasilan pendidikan itu sendiri.<\/p>\n<p>Diakhir bincang livestreaming, Tuti Azizah merespon penanya yang mengungkapkan berbagai macam tantangan dan hambatan yang kerap ia temui saat pembelajaran daring dimana partisipasi siswa sangat minim karena keterbatasan perangkat teknologi dan akses jaringan. Tuti mengungkapkan bahwa disinilah letak esensi keberadaan guru dimana ia harus tetap menjaga niat dan tujuan pendidikan, guru harus legowo tidak memaksa siswa ikut serta dengan standarisasi pembelajaran daring namun keterbatasan siswa dalam aksesibilitas harus disiasati dengan komunikasi dan interaksi lainnya semisal personal chat diluar jadwal, pertemuan berkala secara sistem blok di sekolah \u2013 tentu dengan prokes ketat \u2013 ataupun dilakukannya <em>home visit <\/em>(kunjungan rumah). Dalam hal menjaga niat mendidik ini menurutnya harus terus diupgrade, karena selalu ada tantangan dan hambatan dalam menjalankan peran guru. Dengan niat yang terpelihara maka kesadaran mendidik seorang guru akan pula terus bertumbuh sehingga guru tetap menjadi teladan dan proses pendidikan tetap berjalan pada koridornya. (Pena, 2021)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di era revolusi industri 4.0 seperti saat ini dimana pemanfaatan Internet of things (IoT) begitu pesat mewarnai dunia pendidikan. Kecanggihan teknologi dan informasi yang serba cepat ini tentu berdampak pada karakter dan skill peserta didik dan guru generasi millenial. Transformasi pendidikan sebagai upaya merespon perkembanngan zaman harus memiliki daya adaptasi tinggi salah satunya dari peran guru. Oleh karena itu dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[23],"tags":[],"class_list":["post-960","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-chapter-report"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/960","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=960"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/960\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":967,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/960\/revisions\/967"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=960"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=960"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/psikopend-sps.upi.edu\/beranda\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=960"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}