Shaping dalam Modifikasi Perilaku

Audi Nurrahmawati

Apa Itu Shaping?

Shaping merupakan suatu prosedur yang dapat digunakan untuk membentuk suatu perilaku yang belum pernah ditampilkan oleh individu di dalam modifikasi perilaku (Martin & Pear, 2015).

Dimensi Shaping

Ada lima dimensi perilaku yang dapat dibentuk yaitu:

  1. Topografi, yaitu gerakan spesifik yang terlibat dalam perilaku. Contoh: Seorang bayi yang baru pertama kali mengoceh mengeluarkan bunyi yang mirip dengan kata-kata dalam bahasa ibu orang tuanya. 
  2. Frekuensi perilaku, yaitu jumlah kejadian yang terjadi dalam periode waktu tertentu. Contoh: Jumlah soal Matematika yang diselesaikan dalam 15 menit.
  3. Durasi respon, yaitu lamanya waktu berlangsung. Contoh: Lamanya waktu menyelesaikan pekerjaan rumah. 
  4. Latency (waktu reaksi), yaitu waktu antara terjadinya suatu stimulus dan respon yang ditimbulkan oleh stimulus tersebut. Contoh: Waktu antara pertanyaan “jam berapa sekarang?” dan respons melihat jam tangan.
  5. Intensitas atau kekuatan suatu respons mengacu pada efek fisik yang dimiliki atau berpotensi dimiliki respons tersebut terhadap lingkungan. Contoh: Kekuatan pukulan dalam meninju.

Contoh Kasus Shaping

Andi mengambil pensiun dini pada usia 55. Selama menjadi pekerja, Andi sangat pemalas dan memiliki kebiasaan sehabis kerja langsung ‘rebahan’ sambil  minum kopi dan menonton TV di sofa. Setelah pensiun, Andi memutuskan untuk memulai kegiatan  berlari secara rutin sejauh 0,4 km setiap hari. Namun setelah beberapa kali mencoba, dia kembali ke rutinitasnya di sofa. Akhirnya Andi memutuskan untuk membuat beberapa perubahan dalam hidupnya dengan mendaftar kursus modifikasi perilaku di komunitas setempat. Atas saran praktisi, ia pun memutuskan untuk mencoba menerapkan prosedur shaping dalam program olahraga teratur.

Contoh Kasus Shaping

Terdapat tiga tahap dalam prosedur tersebut:

  • Menentukan perilaku target akhir. Tujuan Andi adalah berlari sejauh 0,4 km setiap hari. 
  • Mengidentifikasi respons yang dapat digunakan sebagai titik awal menuju perilaku target akhir. Andi memutuskan bahwa ia akan memakai sepatunya dan berjalan-jalan di luar rumah sekali (sekitar 30 m). Meskipun ini jauh dari 0,4 km tetapi ini adalah permulaan.
  • Memperkuat perilaku awal; kemudian memperkuat pendekatan yang lebih dekat sampai akhirnya perilaku target akhir terjadi. Andi memilih minum kopi sebagai penguat (reinforcer). Ia harus menyelesaikan latihannya sebelum dia bisa minum kopi.
  • Setelah perkiraan pertama 30 m terjadi pada beberapa sore berturut-turut, Andi meningkatkan persyaratan untuk berjalan di sekitar rumah dua kali (sekitar 60 m). Lalu akhirnya jaraknya ditingkatkan menjadi empat kali (120 m), hingga akhirnya mencapai tujuannya. Dengan memperkuat perkiraan berturut-turut untuk tujuannya, Andi mencapai titik di mana ia berlari 0,4 km secara teratur.

Referensi:

Martin, G. & Pear, J. (2015). Behavior Modification: What It Is and 

How to Do It. United States of America: Pearson Education.