PIKIRAN RAKYAT – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) tengah menggencarkan Program Pendidikan Guru Penggerak (PPGP).
Terdapat beragam tantangan yang harus dihadapi guru yang mengikuti program tersebut. Mulai dari menyesuaikan paradigma pembelajaran yang baru dengan yang sebelumnya telah tertanam lama, sampai persoalan zona nyaman.
Sebagaimana diketahui, hingga Mei 2022, PPGP telah memasuki angkatan kelima. Sejauh ini, sekitar 5.500 guru telah dinyatakan lulus sebagai guru penggerak. Salah satunya, Aris Supriadi, guru SD Islam Terpadu Hidayah dari Ngawen, Klaten, yang mengikuti PPGP. Ia mengikuti pelatihan dalam program tersebut selama sembilan bulan. Aris merupakan anggota PPGP angkatan ketiga.
Aris menuturkan, selama pelatihan, ia kerap diajarkan metode pengajaran yang berorientasi kepada kebutuhan siswa.
”Beberapa materi yang diajarkan adalah metode pembelajaran terdiferensiasi dan sosial emosi,” katanya, Rabu 13 Juli 2022.
Metode pembelajaran terdiferensiasi, katanya, merupakan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak, mulai dari siswa bertipe visual, yang lebih terbiasa menerima pelajaran dengan cara membaca atau melihat; tipe audio, yang lebih besar menerima informasi melalui pendengaran; tipe motorik, yang lebih bisa mencerna informasi dengan berkegiatan di luar ruangan.
Aris mengaku, masih perlu banyak penyesuaian dengan paradigma-paradigma yang diajarkan dalam guru penggerak.
Persoalannya kemudian, anggota PPGP diharuskan menjadi sumber informasi bagi guru-guru lain yang tidak ikut program tersebut. Aris menyebutkan, kendala lain terkait hal ini adalah menyesuaikan waktu dengan kesibukan guru.
Hal itu kerap kali membuat penyampaian informasi mengenai paradigma pembelajaran berorientasi kebutuhan siswa tersebut tidak tuntas.
Iin Sulistianingsih, anggota PPGP dari TK Al Firdaus, Surakarta, memiliki pandangan lain tentang tantangan bagi guru untuk mengubah paradigma pengajarannya sesuai dengan Program Guru Penggerak. Tantangan itu terkait zona nyaman guru.
Hal itu kerap kali membuat penyampaian informasi mengenai paradigma pembelajaran berorientasi kebutuhan siswa tersebut tidak tuntas.
Iin Sulistianingsih, anggota PPGP dari TK Al Firdaus, Surakarta, memiliki pandangan lain tentang tantangan bagi guru untuk mengubah paradigma pengajarannya sesuai dengan Program Guru Penggerak. Tantangan itu terkait zona nyaman guru.
Penulis
Muhammad Ashari
Sumber
https://www.pikiran-rakyat.com/pendidikan/pr-015015975/program-pendidikan-guru-penggerak-digencarkan-terdapat-beragam-tantangan?page=2
