Seksisme merupakan suatu bentuk prasangka negatif ataupun positif yang didasarkan pada perbedaan jenis kelamin. Hal ini dipertegas lagi oleh Hani Yulindrasari, S.Psi., M. Gendst., Ph.D., narasumber pada program livestreaming dalam akun instagram SPs Psikologi Pendidikan UPI yang pada kesempatan tersebut mengangkat judul “Seksisme dan Guru Milenial.” Adapun program tersebut dilaksanakan pada hari Jum’at, 16 April 2021.
Dalam penelitiannya tentang konstruksi gender yang diyakini oleh para milenial dan post milenial, Hani Yulindrasari, S.Psi., M. Gendst., Ph.D. menuturkan bahwa kelompok milenial cenderung lebih terbuka atau open minded dibandingkan dengan kelompok post milenial dalam hal kesetaraan gender. Karena itu, guru generasi milenial memiliki tanggung jawab untuk membentuk pemahaman berkeadilan termasuk berkeadilan gender pada generasi post-milenial yang diajarnya. Caranya bisa dengan lebih banyak menggali informasi dan wawasan peserta didik dengan cara membuka area diskusi dalam proses belajar mengajar.
Menurut Ibu Hani, model belajar dua arah bisa melatih siswa untuk berpikir lebih kritis dengan membuka area diskusi, debat, dan lain sebagainya, termasuk juga berdiskusi mengenai gender. Selain itu, hasil penelitian yang pernah dilakukannya menunjukkan bahwa post milenial justru lebih seksis dibandingkan milenial. Dengan demikian, para guru milenial hendaknya mulai bisa memperkenalkan kepada para siswanya tentang privilege yang mereka miliki. Karena gender juga soal privilege, dimana laki-laki dalam sistem patriarki lebih banyak mendapatkan privilege tersebut dibandingkan dengan perempuan, serta orang-orang yang “able” lebih banyak mendapatkan privilege dibandingkan orang-orang yang memiliki disability, dll.
“Anak-anak post milenial ini sebenarnya bisa diajak untuk mendiskusikan ini semua oleh gurunya, termasuk guru generasi milenial,” tegas Hani.
Selain itu juga Hani Yulindrasari mengatakan bahwa seksisme dalam dunia pendidikan berdampak besar kepada perkembangan diri laki-laki maupun perempuan, seperti contohnya masih sedikit di kalangan perempuan yang menjadi pemimpin dan CEO perusahaan-perusahaan besar sehingga membatasi langkah perempuan dan mencukupkan perempuan pada materi-materi tertentu saja. Sedangkan dampak seksisme dalam dunia pendidikan terhadap laki-laki, salah satunya adalah laki-laki dianggap tidak wajar ketika berrminat pada area-area yang didominasi perempuan. Sikap-sikap seperti itu yang dapat menghambat laki-laki dan perempuan untuk menjalani minatnya dan berkembang dalam profesi yang mereka minati.
Sebelum mengakhiri bahasannya, Ibu Hani menutup statementnya dengan mengatakan bahwa kita sebagai pendidik berkewajiban berlaku adil pada siswa-siswa kita dalam memberikan pelayanan di dunia pendidikan. (Pena, 2021)


