Pada Rabu, 30 Maret 2022, senang sekali kami mahasiswa Prodi Psikologi Pendidikan bisa melaksanakan kegiatan hiking bersama di Taman Hutan Raya Djuanda Bandung atau biasa dikenal dengan nama Tahura Djuanda yang indah dan dibersamai oleh Ibu Dr. Tina Hayati Dahlan, M.Pd., Psikolog selaku Kaprodi Psikologi Pendidikan.
Kami menjadwalkan kegiatan ini dimulai pukul 08.00 sudah tiba didepan gerbang Tahura untuk kemudian masuk bersama-sama. Kegiatan hiking ini dihadiri oleh tujuh mahasiswa yang salah satu dari kami mengajak anak perempuannya sehingga menambah keseruan dan keceriaan hari itu. Kami juga kompak senada mengambil tema monochrome atau hitam putih sebagai dresscode yang digunakan. Setelah semua telah berkumpul, kami kemudian bersama-sama masuk ke dalam Tahura dengan membayar tiket sebesar Rp12.000,-.
Perjalanan kami kali ini cukup menantang, kami harus terus menanjak dan melewati jalan berliku. Namun, selama perjalanan kami disuguhi pemandangan yang sungguh indah, hamparan hutan yang syahdu, tebing-tebing yang kokoh, juga berbagai tanaman alam yang tubuh subur menjadi obat dari rasa lelah kami. Goa Jepang dan Goa Belanda juga terletak di dalam kawasan Tahura. Beberapa dari kami yang menjadikan hiking ini sebagai pengalaman pertamanya ke Tahura bersama-sama menjelajahi isi Goa Jepang dan Belanda. Sangat gelap dan dingin sekali, namun dengan gagahnya potret sejarah ini dalam diam menyimpan seluruh sejarah Bangsa Indonesia ketika berada pada jaman penjajahan. Dengan didampingi oleh tour guide, kami yang menjelajahi ke dalam Goa seakan-akan merasakan bagaimana dulu ketika Goa ini masih aktif digunakan dan menjalani berbagai aktivitas didalamnya.
Setelah asyik menjelajahi Goa, kami melanjutkan perjalanan. Titik tujuan serta pemberhentian utama kami adalah taman penangkaran rusa yang lokasinya berada ditengah-tengah Tahura. Dengan hutan yang memiliki area luas 590 hektar, tentulah perjalanan kami cukup panjang. Perjalanan juga sangat terasa bagi kami yang jarang sekali mengikuti kegiatan-kegiatan jelajah seperti ini. Maklum, namanya juga mahasiswa yang terjebak pada kegiatan rebahan kalau sedang punya waktu senggang dan bukannya berolahraga. Meskipun lelah sudah mulai menggelayuti kami, tapi suasana yang asri ditambah hangatnya kebersamaan perjalanan ini justru membuat lelah ini menjadi kalah, berganti dengan rasa syukur yang tiada terkira.
Sampailah kita di pemberhentian utama yaitu penangkaran rusa. Kali ini kita tidak hanya disuguhkan pemandangan yang indah, namun juga serunya kegiatan menyuapi rusa. Wah! Rasa senang mereka ketika makan juga menular kepada kami, mereka lucu sekali. Kami sangat antusias memberi makan rusa-rusa ini dengan wortel yang sudah dijajakan untuk para pengunjung dengan membayar sebesar Rp5.000,- untuk satu ember kecilnya. Kami juga mengambil beberapa foto dan beristirahat sejenak, ditemani rusa-rusa yang lucu serta pemandangan alam yang indah. Setelah dirasa cukup puas menikmati keindahan di titik ini, kami kemudian melanjutkan perjalanan untuk kembali dan telah menentukan pemberhentian kedua untuk memenuhi keinginan perut-perut kami yang sudah berdemo untuk diisi.
Kami berhenti pada pemberhentian kedua, menuntaskan lelah dengan menikmati segelas kelapa muda dan manisnya pisang bakar sambil menemani obrolan kita yang hangat. Banyak titik-titik tempat di dalam Tahura yang menyajikan tempat makan dan beristirahat dengan nyaman, salah satunya yang kami kunjungi saat ini dengan harga yang cukup terjangkau. Meski agak khawatir karena selama kami beristirahat ada beberapa monyet yang mengintai. Saran untuk teman-teman yang hendak berkunjung ke Tahura, sesuai peraturan dari pihak pengelola, jangan pernah memberi makan ke monyet yang ada di sana ya. Setelah selesai menikmati makanan yang ada, kami kemudian melanjutkan perjalanan sampai kembali di gerbang masuk utama. Agenda hiking kemudian diakhiri setelah kita keluar dari gerbang, kami saling berpamitan dan pulang untuk melanjutkan agenda masing-masing.
Perjalanan kami kali ini cukup menantang dan melelahkan, namun ia datang sepaket dengan rasa syukur dan bahagia. Selama perjalanan kali ini, banyak sekali semangat energi positif yang kami dapatkan, bertukar dengan banyak energi negatif yang ada pada diri. Sejuknya alam juga menjadi obat untuk menyelaraskan kembali jiwa dan raga yang tiada henti beraktifitas setiap harinya. Seolah-olah kami ‘pulang’ kepada alam, diajak untuk mengingat kembali bahwa banyak sisi kehidupan yang bisa untuk kita nikmati dan syukuri, termasuk pertemuan dan kebersamaan yang kami jalani hari ini. Serta, menjadi bekal bahan bakar kami untuk kembali melanjutkan perjalanan kehidupan, menjalani perkuliahan serta berbagai aktivitas kebaikan lainnya.
(Salsabila Nadifah Fitriani)


