Oleh :
Dewi Suniarsih (2208763)
Indah Al Aziz (2208142)
Sigismund Schromo Freud atau dikenal dengan Sigmund Freud merupakan tokoh pendiri aliran psikoanalisis keturunan Yahudi. Ia merupakan anak sulung dari pasangan Jacoc Freud dan Amalia Nathanson (isteri kedua Jacob Freud). Freud lahir pada 6 Mei 1856 di Freiberg, Moravia. Karena kesulitan ekonomi yang dialami keluarganya, ia harus perpindah-pindah tempat dan kemudian menetap di Wina, Austria. Ia mengalami kanker saluran pernapasan karena kebiasaan merokok sejak usia 24 tahun, hingga akhirnya meninggal di London, Inggris pada 23 September 1939 saat usianya 83 tahun.
Freud terkenal karena mendasarkan teori psikoanalisis pada pengalaman riilnya ketika memberikan penanganan pada pasien-pasiennya dan kasus kesehatan mental. Freud menganggap dirinya sebagai seorang ilmuan, sehingga mengucilkan para pengikutnya secara pribadi yang memiliki pandangan bersebrangan dengan pandangannya (Ardiansyah, dkk. 2022: 25).
Struktur Kepribadian
Freud (Leli Ika Maryati dan Vanda Rezania, 2021: 23) mengemukakan, bahwa struktur karakter manusia terdiri atas 3 jenis, yaitu id, ego, dan super ego. Id merupakan aspek biologis dan bawaan dari lahir yang terdiri dari insting, dan dilakukan secara reflek atau tidak sadar untuk mempertahankan sesuatu, misalnya gengsi, tidak mau direndahkan, tidak mau kalah. Sementara itu, ego merupakan aspek psikologis manusia yang dilakukan secara sadar dan didahului dengan aktivitas berfikir untuk menemukan alternative terbaik yang mengarahkan individu pada realitas. Misalnya marah, merajuk, memberontak. Selanjutnya super ego, merupakan aspek sosiologis pada manusia, sering disebut jua sebagai “hati nurani”. Super ego berfungsi sebagai pengendali id, dan mengarahkan id dan ego pada perilaku yang lebih bermoral. Super ego melahirkan sebuah keyakinan karena aktivitas yang dilakukan sudah dirasa etis dimasyarakat. Misalnya, menerima keadaan dan memahami kenyataan. Freud menjelaskan bahwa karakter dapat diumpamakan bagaikan suatu gunung es. Sebagian besar karakter terletak dibagian dasar pemahaman. Sama halnya dengan dasar permukaan air yang menjadi letak dari sebagian besar sebuah gunung es.
Mekanisme Pertahanan Ego
Mekanisme ini termasuk dalam Teori Psikoanalisis bagi Sigmund Freud. Menurutnya, munculnya pertahanan ego, disebabkan karena kecemasan yang dialami seseorang. Kecemasan sendiri merupakan perasaan terjepit atau terancam ketika terjadi konflik pada ego yang disebabkan pengaruh dari luar. Freud mengatakan, mekanisme pertahanan ego merupakan strategi seseorang dalam menghindari dorongan id maupun tekanan super ego atau ego sehingga kecemasan dapat kurangi atau diredakan.
Menurud Freud (Hastuti Marlina, 2021: 25-26), ada tujuh mekanisme dalam meredakan kecemasan;
1. Represi, yaitu mekanisme untuk meredakan kecemasan dengan cara menekan penyebab kecemasan tersebut dalam ketidaksadaran.
2. Sublimasi, yaitu mekanisme meredakan kecemasan dengan cara merubah dorongan dari id (sebagai penyebab kecemasan) mejadi bentuk tingkah laku yang bisa diterima masyarakat.
3. Proyeksi, yaitu pengalihan dorongan sikap, atau tingkah laku pencetus kecemasan pada orang lain.
4. Displacement, yaitu pengungkapan dorongan pencetus kecemasan kepada individu (obyek) yang dianggap tidak terlalu berbahaya dibandingkan individu semula.
5. Rasionalisasi, yaitu upaya individu dalam memutarbalikan kenyataan yang mengancam Ego, dengan cara memunculkan dalih tertentu yang seakan-akan masuk akal.
6. Pembentukan reaksi, yaitu upaya mengatasi kecemasan dengan cara berbuat sebaliknya, sebagai akibat dari dorongan yang bertentangan dengan norma.
7. Regresi, yaitu upaya mengatasi kecemasan dengan cara bertingkah laku tidak sesuai dengan tingkat perkembangannya.
Tahap-tahap perkembangan
Freud mengemukakan bahwa pada tahap perkembangannya, manusia akan mendapatkan kenikmatan pada bagian tubuh tertentu. Fase tersebut dibagi kedalam 5 tahapan perkembangan
Sesi Oral (oral stage)
Sesi ini merupakan awal masa tumbuh yang dimulai selama 18 bulan hingga tahun pertama hidup manusia. Mulut menjadi pusat kenikmatan seorang balita, kepuasaan utamanya diraih dengan mengunyah, mengisap dan menggigit. Hal itu dilakukan untuk menghilangkan setress.
Sesi anal (anal stage)
Merupakan sesi pertumbuhan kedua, diawali umur 1 sampai 3 tahun. Fungsi pengeluaran pada anus menjadi pusat kenikmatan difase ini. Aktivitas buang air besar merupakan rangsangan utama yang memberikan kenikmatan pada anak. Maka dari itu biasanya pada umur ini anak diajarkan toilet training.
Sesi falik (Phallic Stage)
Sesi ini terjadi pada tahun ketiga hingga ke enam kehidupan seseorang. Wilayah genital menjadi pusat kenikmatan pada fase ini, dimana disebutkan bahwa memanipulasi diri meruapakan hal yang mengasikan. Pada fase ini ada keinginan kuat anak untuk mengambil peran orangtua yang memiliki jenis kelamin yang sama untuk menikmati afeksi dari orang tua yang memiliki jenis kelamin berbeda.
Sesi laten (Latency stage)
Sesi ini dimulai sekitar umur 6 hingga pubertas. Pada masa ini, perhatian penuhnya pada seksualitas, serta meningkatkan keahlian sosial dan inetelektual. Kegiatan ini dapat dimanfaatkan oleh anak untuk menyalurkan energy pada aspek emosional yang nyaman dan meminimalisir konflik.
Sesi genital (genital stage)
Sesi ini berlangsung dari remaja hingga masa berikutnya. Freud mengemukakan bahwa konflik dengan orang tua dimasa kecil yang belum tuntas dapat timbul kembali pada masa remaja. Jika konfliknya sudah tuntas, maka individu mampu berperan secara mandiri layaknya orang dewasa.
Sumber :
Ardansyah, A., Sarinah, S., Susilawati, S., & Juanda, J. (2022). KAJIAN PSIKOANALISIS SIGMUND FREUD. Jurnal Kependidikan, 7(1), 25-32.
Mariyati, L.I., Vanda, R. (2021) PIKOLOGI PERKEMBANGAN Sepanjang Kehidupan Manusia. Sidoarjo: UMSIDA Press.
Marlina, H. (2021). TEORI DAN APLIKASI PSIKOLOGI PERKEMBANGAN. Pidie: Yayasan Penerbit Muhammad Zaini.
