2016
Dr. Tina Hayati Dahlan, M.Pd., Psikolog, Diah Zaleha Wyandini, S.Psi., M.Si, Ifa H Misbach, S.Psi., MA.
Sumber Dana: Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasi sumber-sumber konflik orang tua-remaja dan cara-cara pengelolaan konflik tersebut yang dilakukan orang tua dan anak remaja.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pemilihan sampel menggunakan teknik accidental sampling dengan karakteristik sampel meliputi remaja berusia 11 s.d 21 tahun dan ibu/ayah yang berdomisili di Kota Bandung. Sementara ini, data yang diolah baru dari responden penelitian yang berjumlah 729 orang remaja, 448 orang ibu, dan 395 orang ayah. Pengambilan data dilakukan secara offline dan online dengan menggunakan instrumen yang dirancang peneliti. Hasil pengolahan data sementara menunjukkan bahwa sumber konflik tertinggi menurut anak pada hubungan keluarga (37,33%), disusul dengan perbedaan nilai dan sikap (34,08%); sedangkan sumber konflik yang paling banyak dirasakan ibu dan ayah adalah perbedaan nilai dan sikap (39.37% dan 40,87%), disusul dengan perbedaan selera pribadi (36,40% dan 33,74%). Cara yang paling banyak dilakukan anak dalam menyelesaikan konflik adalah capitulation (30.16%), yaitu menyerahkan kemenangan kepada orang tua pada saat konflik; sedangkan cara yang paling banyak dilakukan ibu atau ayah dalam menyelesaikan konflik adalah negotiation (44.26% and 45.34%) yaitu saling bertukar gagasan dengan anak dan melakukan tawar menawar untuk menghasilkan kesepakatan yang menguntungkan semua pihak.
Kata Kunci: Konflik orang tua-remaja, negosiasi berfokus-solusi, capitulation,
negotiation.
