[Kelas Pagi] TAHAP PERKEMBANGAN MANUSIA MENURUT ERIK ERIKSON

Oleh: Pupe Putriza(2021) dan Rifka Silmia Salsabila (2021)

(Mata Kuliah Teori Kepribadian)

Kenalan dulu yuk dengan Erik Erikson

  • Erik Erikson merupakan psikolog asal Jerman yang lahir pada tanggal 15 Juni 1902.
  • Pada usia 25 tahun Erikson menerima tawaran untuk menjadi guru sebuah sekolah kecil di Wina (Austria). Dia kemudian menjadi pasien sekaligus teman Freud. Setelah cukup kaya, mereka dan keluarganya menetap di Wina menjadi psikoanalis. Erikson kemudian mengakui bahwa Freud sebagai bagian dari pencariannya terhadap figur ayah. Erikson memulai karir profesional dalam bidang psikoterapi setelah merasa menemukan identitasnya
  • Pada tahun 1950 Erikson bekerjasama dengan Austen Riggs di Stockbridge Massachussetts, untuk membangun sebuah fasilitas penanganan gangguan emosional pada orang dewasa. 10 tahun kemudian dia kembali ke Harvard dan mengajar di seminar pascasarjana dan kemudian memberikan kuliah menangani siklus kehidupan manusia.

Tahapan Perkembangan Manusia Menurut Erik Erikson

  • Tahap Kepercayaan vs Ketidakpercayaan (0-1 tahun)

Aktivitas utama yang dilakukan pada fase ini adalah ketergantungan pada ibu dan mengekspresikan rasa frustasinya. Selain itu, pada fase ini bayi seringkali merasa takut pada lingkungan sekitar terutama yang tidak dikenalnya dengan baik.

  • Otonomi vs rasa malu (1 – 3 tahun)

Aktivitas utama yang dilakukan pada fase ini adala bicara, berjalan, harapan yang menonjol, dan mulai belajar untuk menunda kesenangan. Pada fase ini, anak-anak cenderung stres apabila berpisah dengan sosok ibu.

  • Inisiatif vs Rasa Bersalah (3 – 6 tahun)

Perilaku utama yang menonjol pada fase ini adalah bertambahnya kosakata yang dikuasai dan mulai melakukan interaksi dengan kelompok sebaya. Namun, pada fase ini anak-anak cenderung merasa bersalah dan minder yang diekpresikan dengan menjauhi kelompok atau menangis.

  • Ketekunan vs Rendah Diri (6-12 tahun)

Pada fase ini sang anak cenderung lebih aktif secara fisik dan lebih kompetitif sehingga mereka lebih menyukai aktifitas yang bersifat kompetitif seperti olahraga, game, dll. Namun, perlu berhati-hati karena pada fase ini sang anak akan sangat aktif dan sangat marah jika ada pembatasan. Maka, orangtua harus bijak dalam mengatur aktifitas sang anak.

  • Identitas vs Kebingunan Peran (12-20 tahun)

Fase ini adalah fase paling banyak menghabiskan tenaga bagi orang tua karena pada saat ini krisis utama yang dihadapi adalah mereka sedang berusaha mencari jati diri dan memiliki emosi yang tidak stabil. Sosok yang berperan pada fase ini adalah kelompok dan model kepemimpinan, sehingga di fase ini sang anak akan mudah terbawa emosi kelompok dan nekat melakukan aksi berbahaya atas nama kelompok.

  • Keintiman vs Isolasi (20-40 tahun)

Setelah melewati fase remaja, kini sang anak telah menjadi dewasa dan memiliki emosi yang lebih stabil. Namun, pada fase ini orang tersebut sedang berusaha mencari pasangan atau justru menjauhkan dirinya dari berbagai macam hubungan, semuanya tergantung dari berbagai pengalaman yang dialaminya.

  • Generativitas vs Stagnasi (40 tahun — 65 tahun)

Pada tahap ini seseorang akan melanjutkan kehidupannya dan berfokus terhadap karir dan keluarga. Jika berhasil melewati tahap ini, maka seseorang akan memberikan kontribusi terhadap lingkungannya dengan berpartisipasi dalam lingkungannya dan komunitasnya.

  • Integritas vs Keputusasaan (65 tahun keatas)

Dalam tahap ini, cenderung melakukan cerminan diri terhadap masa lalu setiap individu. Pada tahapan ini, merupakan rumusan dari semua tahapan di masa lalunya.

Sumber:

Calvin S. Hall & Gardener Lindzey, 1985, hlm. 81-88

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *